Rabu, 24 April 2013

opini (1)


Barusan aku updates sesuatu yang menurutku rasis sih, status yang isinya mengunggulkan kelompokku sendiri.

Nah disitu menurutku ada sesuatu yang lumayan menarik hati yang secara tidak langsung  saya dapatkan ketika “memikirkan kembali” hal itu.

Ada seorang temanku yang super sekali di angkatan pernah bilang. Ketika terjadi sebuah diskusi yang mengarah ke perdebatan, ketika ada seseorang yang merasa dia ingin mengadakan acara “bersama” padahal sebenarnya tujuan itu belum tentu di setujui bersama, dia bilang

“setiap orang itu berpikir berdasarkan apa yang diketahuinya, berdasarkan apa yang dia ahli dalam bidang itu” (supersekalilahorangini)

Ketika saya membicarakan usaha dan energi melalui “kacamata” kimia, dan secara kurang bijak saya langsug aja membandingkan dengan “pelajaran lain”, ternyata banyak juga yang merespon. Dan responnya pun, kalimat yang dipikir dulu, yang disusun dulu sebelum mengkomen, minimal disusun dalam pikiran, suatu diskusi, tukar pandang pikiran. Saya emang berbicara dengan kimia vs fisika, dimana posisi fisika terasa lebih di lemahkan daripada yang lain. Ternyata, fisikawan langsung menunjukkan jati dirinya nih, dengan argument yang logis dan menarik pula untuk diikuti. Sampai sini sebenarnya saya sudah bangga dengan orang itu.

Setelah beberapa hari kemudian, ternyata problem ini tidak berhenti sampai itu saja, banyak yang tertarik untuk mendiskusikannya lebih lanjut lagi. Mulai dari anak biologi sampai anak ekonomi pun beraksi disini. Kemudian mungkin timbul sebuah pertanyaan, mana yang menang? Ana yang lebih bagus?

Kalo dilihat sekilas, mungkin emang ada beberapa pernyataan yang terlihat lebih logis dari yang lain, masalahnya, ini bukan ke ranah “ilmu” itu sendiri. Ini lebih kepada subjektif penerimanya, subjektif pembaca yang menilai.

Saya pernah mendapat sebuah cerita menarik dari tetralogi andrea. ‘ketika ada beberapa orang dimasukkan dalam sebuah ruangan gelap tanpa berbentuk. Mereka disuruh menilai gajah yang di letakkan di tengah ruangan. Sebelumnya mereka belum pernah tahu apa dan bagaimana gajah itu sebenarnya. Ketika di Tanya pendapatnya, seperi apa gajah itu? A bilang, gajah itu seperti sebuah selang berukuran satu lengan dan panjang sekitar 2 meter, tetapi B berkata, tidak, gajah itu seperti sebuah pasak besar berukuran 1,5 m dan satu pelukan tubuh, C menyahut, kawan, gajah itu, seperti sebuah kasur yang empuk dan tebal, tapi sempit, dan D pun menengahi,Oooo, tahukan teman-teman, bahwa sebenarnya gajah adalah lembaran tipis yang lebar???’

Dari sini teman-teman, apakah kita bisa memutuskan siapa yang paling benar dari A, B, C, dan D itu? Ataukah mereka semuanya salah? KARENA TIDAK ADA YANG BISA SEPAKAT DALAM SATU HAL, DALAM SATU GAJAH YANG SAMA?

Bagaimana kalo saya menawarkan suatu kasus, dimana saat kegelapan itu terjadi, A memegang belalai, B meraba kaki, C menepuk-nepuk perut, dan D tentu saja teman-teman tahu, membelai telinga si gajah.
Apakah disini masih ada anggapan bahwa hanya SATU yang benar dan yang lain adalah salah? Hanya ada SATU kemenangan sejati?

Jadi, jika ada pertanyaan manakah yang logis dan yang tidak? Menurutku pertanyaan itu sendiri yang tidak logis.

Kita mempunyai latar belakang yang berbeda, dasar pemikiran yang berbeda, karena mempunyai hidup dan pengalaman yang berbeda pula. apakah ini ada hubungannya dengan anjuran untuk saling mengenal satu sama lain?

What will we’re choose?
Tetap kekeuh pada pendirian pribadi? Or mau berendah hati untuk menerima pandangan dari orang lain? J

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar